Rabu, 07 Januari 2009

CITA-CITAKU

 Waktuku kecil aku ingin sekali menjadi seorang dokter. Setiap kali guru TK ku bertanya, kalo sudah besar mau jadi apa anak-anak? Dokter bu guru. Serempak murid-murid menjawabnya.
 Sampai dengan lulus SMP pendirianku masih kokoh, aku ingin tetap menjadi dokter. Masuk SMA mulai tergoyahkan cita-citaku menjadi dokter. Karena ku sadar aku tidak mampu. Menjadi dokter harus punya 3 poin penting. Mental, Pintar, Uang. Aku sadar bahwa aku tidak pintar, lemah sekali aku dalam menghapal, padahal menjadi dokter harus banyak menghafal istilah-istilah biologi dalam bahasa latin.(Aku ga mau lulus jadi dokter malah malpraktek,nti aku salah menganalisa jenis penyakit lagi, kan gaswattz) Aku sadar mentalku tak sekuat baja, bisa di bilang mentalku seperti mental krupuk. Aku takut melihat darah, apalagi jika darahnya berasal dari orang yang kecelakaan. Jangankan menyentuhnya untuk diobati, melihatnyapun sudah membuat mentalku menjadi ciut. Yang ada aku bisa menjerit histeris dan beristigfar terus. (jika benar seandainya aku menjadi dokter, ntu pasien uda mati duluan sebelum aku obati, atau malah lebih cepat karena aku teriak histeris. Hhee…) Aku sadar pula aku bukan dari kalangan orang berada, Aku dari keluarga biasa saja. Masuk fakultas kedokteran membutuhkun biaya yang tidak sedikit. Sedangkan keuangan keluargaku cuma pas-pasan. (uda bodoh, nekat jadi dokter, gak punya uang lagi. Hag3X kelaut aja deh lo)
 Dari 3 poin penting tadi saja aku sudah gagal. Untuk apa harus terus bersikeras menjadi dokter. Ya kan??. Ohhh… tentu aja ini bukan arti dari kata “menyerah”. Ini lebih tepat lagi arti dari kata “sadar diri” (satu-satu orang yang bisa menilai kita dengan tepat ya diri sendiri.) lihat kemampuan jangan hanya mngandalkan minat atau keinginan kuat. Keduanya harus berjalan seimbang jika ingin menjadi sukses.
 Jadi sekarang aku mulai merubah cita-citaku. Cita-citaku saat ini adalah ingin menjadi seorang bidan. Aku sudah mengecek lebih jauh menjadi sorang bidan dan belajarannya saat berproses menjadi bidan propesional dan alhamdulilah sampai sejauh ini aku masi bisa mengatasinya. Bidan 60% praktek 40% teori, itu tandanya lebih banyak praktek ketimbang apalannya, ini menguntungkan untuk ku. Bidan harus sabar dan hati-hati. Aku suka sekali anak kecil terutanma bayi, sesuatu yang disukai pasti akan dijaga dengan hati-hati.
 Lagi pula banyak yang bilang bidan itu bisa buka praktek sediri di rumah, jadi kalo aku sudah menikah nanti aku bisa terus dirumah menunggu suami pulang kerja. Menunggu suami jadi tidak bosan karena di rumah aku gak nganggur.
 Mudah-mudahan nanti setelah aku lulus SMA aku di terima di kebidanan yang negri, jadi biayanya lebih murah dari pada swasta (ya iyalah. Dimana-mana juga gitu.) mohon doanya ya…
 Itu tadi planning jangka panjangnya. Untuk planning jangka pendeknya, aku ingin MENULIS NOVEL dan menjadi PENYIAR RADIO. Aku tipe orang yang ingin punya banyak teman berbagi pengalaman dan menarik kesimpulan serta hikmah dari pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan menuli novel aku bisa menceritakan pengalaman pribadiku dalam tokoh lain. Dengan menjadi penyiar radio kita dapat banyak pengalama dan pemgetahuan. Mudah-mudahan semuanya bisa terkabul. AMIN

2 komentar:

Amelia Tri Permata Dewi mengatakan...

ka mau nanya , kaka kuliah kebidanan di mana ?

Amelia Tri Permata Dewi mengatakan...

ka mau nanya , kaka kuliah kebidanan dimana ?